Makalah Tradisi Lebaran Ketupat Sebagai Kebudayaan Diferensial di Pulau Madura

TRADISI LEBARAN KETUPAT SEBAGAI KEBUDAYAAN DIFERENSIAL DI PULAU MADURA

BAB I PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG MASALAH

Terdapat tradisi yang unik, mengesankan, dan agak sulit kita temukan di tempat selain di Madura atau paling tidak di masyarakat Madura. Tradisi tersebut adalah budaya ater-ater. Ater-ater ini adalah sebentuk tradisi masyarakat Madura terutama di pedalaman dan grass root yang paling banyak ditemui ketika ada hajatan, selame tan dalam segala macamnya, hari raya keagamaan, tasyakuran, dan lain sebaginya.Kegiatan ater-ater ini diaplikasikan dengan menghantarkan barang (terutama makanan) pada sanak keluarga atau tetangga yang ada di sekitar. Namun tidak jarang tradisi ini juga dilaku kan dan tujukan pada sanak saudara yang jauh.

Bagi kalangan masyarakat Madura, ater-ater merupakan tradisi yang telah turun-temurun. Hal ini dilakukan untuk menyambung dan mempererat tali silaturrahmi antar keluarga atau tetangga.Barang yang dibawa sebagai oleh-oleh bagi yang dikunjungi berupa makanan yang siap saji, seperti nasi putih berserta lauk daging sapi atau kambing, lengkap dengan kue dengan berbagai macam jenisnya. Jajanan, nasi, dan lauk pauk tersebut disimpan dalam wadah khusus, sema cam termos untuk piknik. Lalu dijinjing dibawa ke tempat saudara atau tetangga yang akan dikunjungi.

Makanan siap saji dan tidak tahan lama terse but biasa dibawa pada saudara atau tetangga dekat. Jika yang hendak dikunjungi atau diater-ater adalah keluarga yang letaknya jauh, barang bawaannya biasanya barang yang tidak mudah basi tapi unik. Hanya bisa didapat di tempat-tempat tertentu.Sebagai salah satu dari elemen budaya ma syarakat Madura, ater-ater dapat dijadikan se buah teropong atau sekeping cermin yang dapat menggambarkan identitas dan karakter masya rakat Madura.

Namun tradisi ini sering luput dari perhatian para peneliti. Mungkin saja tradisi ini dianggap cukup sepele dan biasa-biasa saja. Padahal, ater-ater ini adalah salah satu kegiatan atau ritual budaya yang membuat banyak orang menyimpulkan bahwa masyarakat Madura adalah ma syarakat yang ramah, dermawan, komunikatif, baik hati, dan memiliki solidaritas yang tinggi pada sesama.

Pada momen hari raya keagamaan seperti lebaran, ater-ater  ini menemukan momennya yang cukup signifikan. Hampir setiap orang masya rakat Madura melakukannya. Mereka tidak seke dar pergi bertamu untuk bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Mereka tidak lupa membawa sesuatu yang mereka makan di rumahnya. Pada momen lebaran, ater-ater  biasanya didominasi oleh mereka yang sedang bertuna ngan. Rasanya tidak pas jika ater-ater pada sa nak saudara di hari raya, jika tidak bersama-sama tunangan. Tidak jarang, budaya ater-ater ini dijadikan wahana bagi seseorang untuk memper kenalkan tunangannya pada tetangga atau ke luarganya yang lain.

B. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah yang saya ambil adalah “Bagaimana kebudayaan diferensial masyarakat Madura ketika memperingati Hari Rya Idul Fitri?”. Hari Raya Idul Fitri merupakan peringatan hari besar dalam Islam. Dilaksanakan setelah 1 bulan menjalankan ibadah puasa. Tepatnya tanggal 1 syawal. Filosofi lebaran adalah kembali suci. Kita telah berpuasa menahan hawa nafsu dan segala yang membatalkannya selama 1 bulan penuh. Karena itu kita merayakan Hari Raya Idul Fitri dimaknai dengan kembali ke fitrah atau suci.Sehingga diibaratkan bagaikan bayi yang baru lahir. Tetapa di masyarakat Madura ada suatu kebudayaan khusus yang berbeda dari filosofi tersebut. Oleh sebab itu, saya mengambil rumusan masalah ini.

C. TUJUAN

Tujuan mengambil tema ini adalah untuk mengetahui kebudayaan diferensial di Pulau Madura dalam memperingati Hari Raya Idul Fitri. Peringatan hari besar yang secara umum dilakukan untuk bersilaturahmi dan menyucikan diri. Tetapi di Pulau Madura terdapat suau kebudayaan khusus disamping filosofi tersebut. Oleh karena itu, saya mengambil tema ini untuk mengetahui lebih jelas tentang tradisi tersebut. Serta hal apa saja yang dilakukan untuk memperingati hari besar ini. Bagaimana tradisi ini terbentuk. Dan seperti apa tradisi ini dilaksanakan. Serta sejak kapan tradisi iniberlangsung,

D. MANFAAT

Manfaat mengambil tema ini adalah setelah mengetahui kebudayaan diferensial di masyarakat Madura diharapkan masyarakat lebih mengerti filosofi lebaran itu sendiri. Sehingga tidak terjadi kesimpang siuran makna. Walaupun tradisi yang selama ini ada tetap dijalankan. Memang kita tidak boleh menyalahkan tradisi. Tetapi kita juga harus mengetahui filosofi dari tradisi tersebut. Karena tradisi ini dianggap kebudayaan yang diferensial. Kebudayaan khusus dan berbeda dari kebudayaan yang ada di masyarakat pada umumnya. Tidak kalahpentingnya setelah membaca essay ini bisa menambah pengetahuan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Menurut Antonius Atoshoki dalam bukunya “Relasi Dengan Tuhan” hari raya Idul Fitri sebenarnya merupakan ungkapan syukur atas keberhasilan orang beriman untuk menahan nafsu termasuk lapar dan haus di siang hari selama satu bulan penuh. Fokus yang diambil oleh penulis adalah tetntang filosofi perayaan Hari Raya Idul Adha. Keberhasilan ini diungkapkan dengan dipanjatkannya pujian-pujian “takbir”. Mulai dari tenggelam matahari di hari terakhir hingga tiga hari berikutnya. Ungkapan syukur itu dilakukan dengan melaksanakan shalat Idul fitri di masjid-masjid dan di lapangan-lapangan, sembari salaman saling maaf memaafkan satu sama lain. Idul Fitri memang hari istimewa. Secara syar’i pun dijelaskan bahwa Idul Fitri merupakan salah satu hari besar umat Islam selain Hari Raya Idul Adha. Karenanya, agama ini membolehkan umatnya untuk mengungkapkan perasaan bahagia dan bersenang-senang pada hari itu.Sebagai bagian dari ritual agama, prosesi perayaan Idul Fitri sebenarnya tak bisa lepas dari aturan syariat. Ia harus didudukkan sebagaimana keinginan syariat.

Bagaimana masyarakat kita selama ini menjalani perayaan Idul Fitri yang datang menjumpai? Secara lahir, kita menyaksikan perayaan Hari Raya Idul Fitri masih sebatas sebagai rutinitas tahunan yang memakan biaya besar dan juga melelahkan. Kita sepertinya belum menemukan esensi yang sebenarnya dari Hari Raya Idul Fitri sebagaimana yang dimaukan syariat.Bila Ramadhan sudah berjalan 3 minggu atau sepekan lagi ibadah puasa usai, “aroma” Idul Fitri seolah mulai tercium. Ibu-ibu pun sibuk menyusun menu makanan dan kue-kue, baju-baju baru ramai diburu, transportasi mulai padat karena banyak yang bepergian atau karena arus mudik mulai meningkat, serta berbagai aktivitas lainya. Semua itu seolah sudah menjadi aktivitas “wajib” menjelang Idul Fitri, belum ada tanda-tanda menurun atau berkurang. Untuk mengerjakan sebuah amal ibadah, bekal ilmu syar’i memang mutlak diperlukan. Bila tidak, ibadah hanya dikerjakan berdasar apa yang dia lihat dari para orang tua. Tak ayal, bentuk amalannya pun menjadi demikian jauh dari yang dimaukan syariat.

Demikian pula dengan Idul Fitri. Bila kita paham bagaimana bimbingan Rasu-lullah  dalam masalah ini, tentu berbagai aktivitas yang selama ini kita saksikan bisa diminimalkan. Beridul Fitri tidak harus menyiapkan makanan enak dalam jumlah banyak, tidak harus beli baju baru karena baju yang bersih dan dalam kondisi baik pun sudah mencukupi, tidak harus mudik karena bersilaturahim dengan para saudara yang sebenarnya bisa dilakukan kapan saja, dan sebagainya. Dengan tahu bimbingan Rasulullah, beridul Fitri tidak lagi butuh biaya besar dan semuanya terasa lebih mudah.

Umat Islam di Indonesia menjadikan Idul Fitri sebagai hari raya utama, momen untuk berkumpul kembali bersama keluarga, Apalagi keluarga yang karena suatu alasan, misalnya pekerjaan atau pernikahan, harus berpisah. Mulai dua minggu sebelum Idul Fitri, umat Islam di Indonesia mulai sibuk memikirkan perayaan hari raya ini, Yang paling utama adalah Mudik atau Pulang Kampung, sehingga pemerintah pun memfasilitasi dengan memperbaiki jalan-jalan yang dilalui. Hari Raya Idul Fitri di Indonesia diperingati sebagai hari libur nasional. Yang diperingati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang memang mayoritas Muslim. Biasanya, penetapan Idul Fitri ditentukan oleh pemerintah, namun beberapa ormas Islam menetapkannya berbeda. Idul Fitri di Indonesia disebut dengan Lebaran, dimana sebagian besar masyarakat pulang kampung (mudik) untuk merayakannya bersama keluarga. Selama perayaan, berbagai hidangan disajikan. Hidangan yang paling populer dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia adalah ketupat, yang memang sangat familiar di Indonesia,

Metode yang dipakai dalam penulisan buku ini adalah metode deduktif. Karena penulis memaparkan terlebih dahulu penjelasa-penjelasan yang umum. Kemudian setelah penjelasan yang umum dipaparkan, penulis melengkapinya dengan penjelasan khusus. Kelebihan metode ini adalah pembaca lebih cepat mengerti. Mengerti hal apa yang ingin disampaikan penulis. Karena diperjelas lagi dengan penjelasan yang khusus. Tujuannya agar penjelasan tersebut lebih detail. Sehingga pembaca tidak merasa bingung untuk menafsirkannya.

Namun, dalam buku ini tertulis bahwa takbir dilakukan selama 3 hari pada saat perayaan Idul Fitri. Padahal yang benar hanya 1 hari. Pelaksanaan takbir 3 hari itu pada pelaksanaan Idul Adha. Antara Idu Fitri dan Idul Adha memang terjadi perbedaan. Jadi tidak bisa disamakan. Jika tidak ada perbaikan, maka kemungkinan aka nada terjadi kesalahan penafsiran. Oleh karena itu, saya mencoba untuk meluruskannya. Semoga pembaca lebih mengerti. Di khawatirkan pembacanya adalah anak-anak. Nnatinya akan terjadi kesalahan penafsiran.

BAB III PEMBAHASAN

Tradisi Lebaran Ketupat atau lebaran hari ke-tujuh dari Hari Raya Idul Fitri tidak sempurna jika tak ada ada menu soto bebek di meja makan. Resep menu soto bebek ini adalah tradisi turun temurun warga pulau garam, Madura. Dalam konteks Lebaran Ketupat, maka menu soto bebek tidak disajikan dengan nasi, melainkan dengan ketupat, yakni sejenis lontong yang dibungkus daun kelapa dengan bungkus yang didesain khusus. Lebaran ketupat merupakan salah satu hasil akulturasi kebudayaan Indonesia dengan Islam. Lebaran ketupat atau yang dikenal dengan istilah lain syawalan sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia di berbagai daerah, dari mulai Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan dan lainnya. Lebaran ketupat disemua daerah yang melaksanakannya, pelaksanaannya sama yaitu pada hari ketujuh setelah Hari Raya Idul Fitri. Lebaran ketupat hanya bisa dijumpai di masyarakat Indonesia dengan tujuan pelaksanaannya sama seperti tujuan berhari Raya Idul Fitri, yaitu saling mema’afkan dan bersilaturahim. Istilah saling mema’afkan ini di kalangan masyarakat Indonesia lebih terkenal dengan sebutan “Halal Bihalal”.

Tradisi lebaran ketupat yang diselenggarakan pada hari ke tujuh bulan syawal juga merupakan tradisi khas Indonesia yang biasa disebut sebagai “hari raya kecil” setelah melakukan puasa syawal selama 6 hari atau puasa kecil dibandingkan dengan Idul Fitri yang didahului puasa Ramadhan selama 1 bulan. Sesuai dengan sunnah nabi, setelah memperingati Idul Fitri, umat Islam disunnahkan puasa selama 6 hari, yang bagi umat Islam di Indonesia kemudian diperingati sebagai Lebaran Ketupat atau SyawalanTradisi lebaran ketupat awal mulanya berasal dari orang Jawa, kemudian tradisi ini menyebar ke seluruh pelosok nusantara yang dibawa oleh orang Jawa sehingga menjadi tradisi yang menasional. Makna tradisi lebaran ketupat ini sangat dalam sekali bagi orang Jawa, mengandung filosofis kehidupan yang berharga.

Ketupat atau kupat adalah hidangan khas Asia Tenggara berbahan dasar beras yang dibungkus dengan selongsong terbuat dari anyaman daun kelapa (janur). Ketupat paling banyak ditemui pada saat perayaan Lebaran, ketika umat Islam merayakan berakhirnya bulan puasa. Makanan ini sudah menjadi makanan khas masyarakat Indonesia dalam menyambut hari Raya Idul Fitri. Ada dua bentuk ketupat yaitu kepal (lebih umum) dan jajaran genjang. Masing-masing bentuk memiliki alur anyaman yang berbeda. Untuk membuat ketupat perlu dipilih janur yang berkualitas yaitu yang panjang, tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Biasanya ketupat disuguhkan dengan opor ayam, rendang dan masakan-masakan khas masing-masing daerah yang mengandung santan. Ketupat sendiri telah berkembang akibat kreatifitas kuliner di beberapa daerah.

Soto bebek pun diracik dengan bumbu khusus dengan dominasi rasa asin khas masakan Madura, kuahnya yang kental dengan sedikit pedas menambah nikmatnya bebek Madura yang konon rasa dagingnya lebih gurih dari bebek Jawa. Soto bebek adalah menu wajib saat Lebaran Ketupat, selain menu lainnya seperti Opor Ayam, Lontong Mie, dan beberapa makanan ringan seperti lepet, dan ketan manis. ”Soto Bebek juga nikmat jika dicampur daun pepaya, atau disantap dengan nasi ubi. Selain berkunjung ke sanak famili, kebanyakan warga Madura memilih memanfaatkan momen hari ke-tujuh lebaran untuk berekreasi ke sejumlah tempat wisata bersama rekan dan keluarga.Masyarakat Madura menyebut lebaran ketupat dengan “Telasan Topak”. Istilah telasan sendiri, menurut penyair Madura D Zawawi Imron, berarti habis. Dari sisi religious, telasan berarti penghabisan dosa manusia karena telah saling bermaapan. Tapi tafsiran lain menyebutkan, Telasan bisa diartikan sebagai bentuk pesta perayaan pasca puasa yang dilakukan secara habis-habisan.

Karena itulah, banyak warga Madura berjuang sekuat tenaga untuk “toron” atau pulang kampong saat lebaran. Mereka berusaha keras meluangkan waktu, biaya, dan energy untuk mudik. Cerminan kejayaan di tanah rantau kemudian mereka perlambangkan dalam banyak sedikitnya perhiasan emas yang dikenakan kaum perempuan mereka.Sebagaimana senajata bagi laki-laki, perhiasan emas bagi kaum perempuan Maduda telah menjadi pelengkap utama busana. Hiasan di rambur berupa cucuk sisir dan cucuk dinar, misalnya, terbuat dari emas. Bentuknya seperti busur. Cucuk sisir biasanya terdiri dari untaian mata uang emas atau uang talenan dan ukonan. Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan pemakai.

Suasana hari raya Idul Fitri di Madura juga tak kalah meriah dibanding daerah lain. Mereka bahkan konsisten hanya akan memasak dan mengkonsumsi ketupat ketika sudah memasuki hari kedelapan bulan syawal.Idul Fitri bisa memiliki banyak makna bagi tiap-tiap orang. Ada yang memaknai Idul Fitri sebagai hari yang menyenangkan karena tersedianya banyak makanan enak, baju baru, banyaknya hadiah, dan lainnya. Ada lagi yang memaknai Idul Fitri sebagai saat yang paling tepat untuk pulang kampung dan berkumpul bersama handai tolan. Sebagian lagi rela melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk mengunjungi tempat-tempat wisata, dan berbagai aktivitas lain yang bisa kita saksikan. Namun barangkali hanya sedikit yang mau untuk memaknai Idul Fitri sebagaimana Rasulullah  “memaknainya”.

Dalam sejarah, Sunan Kalijaga adalah orang yang pertama kali memperkenalkannya pada masyarakat Jawa. Beliau membudayakan dua kali Bakda, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran. Pada hari yang disebut Bakda Kupat tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda. Setelah sudah selesai dimasak, kupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, menjadi sebuah lambang kebersamaan.

Dalam filosofi Jawa, ketupat Lebaran bukanlah sekedar hidangan khas hari raya Lebaran. Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau Kupat dalam bahasa Jawa, merupakan kependekan dari Ngaku Lepat (mengakui kesalahan) dan Laku Papat (empat tindakan).Tradisi Sungkeman menjadi implementasi Ngaku Lepat (mengaku kesalahan) bagi orang jawa. Prosesi Sungkeman, yakni bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun, masih membudaya hingga kini. Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, serta memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain, khsusnya ridho orang tua.Sementara, Laku Papat (empat tindakan) dalam perayaan Lebaran yang dimaksud adalah lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Sebulan lamanya umat muslim berpuasa, Lebaran menjadi ajang ditutupnya Ramadhan. Lebaran juga berakar dari kata lebar. Maknanya bahwa di hari Lebaran ini pintu ampunan telah terbuka lebar.

Luberan bermakna meluber atau melimpah, yakni sebagai simbol anjuran bersedekah bagi kaum miskin. Pengeluaran zakat fitrah menjelang Lebaran pun selain menjadi ritual wajib umat muslim, juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia. Khususnya dalam mengangkat derajat saudara-saudara kita yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.Leburan berarti habis dan melebur. Maksudnya pada momen Lebaran ini dosa dan kesalahan kita akan melebur habis. Karena setiap umat dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.Laburan berasal dari kata labur atau kapur. Kapur adalah zat yang biasa digunakan sebagai penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain. Hati nan putih pertanda hati nan suci. Di hari nan fitri ini, mari kita putihkan hati, sucikan diri, dan gapai ridho Ilahi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s